Skip to main content

follow us



Puisi satire adalah salah genre puisi yang bersifat menyindir atau kritikan atas sebuah fenomena yang terjadi. Seringkali disampaikan dengan kata-kata yang penuh ironi, sarkasme dan sedikit parodi di dalamnya. Istilah satire sendiri berasal dari bahasa Latin “satura” yang berarti sindiran. Kata-kata pada puisi satire banyak berupa analogi tapi sangat keras dan tajam. Sebuah karikatur juga bisa disebut satire karena berupa gambar humor penuh sindiran. Unsur komedi di dalam satire ada yang muncul secara tak langsung dan ada yang memang sengaja dihadirkan oleh si penulis.

Berikut ini ada beberapa contoh puisi Satire yang bisa sobat pelajari, semoga bisa dipahami. Selamat membaca spbat thepuisi.

Diponegoro

Oleh Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali Tuan menanti
Tak gentar

Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati

MAJU!
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti
Sudah itu mati

MAJU!

Bagimu negeri
Menyediakan api
Panah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda
Sungguh pun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju!
Serbu!
Serang!
Terjang!

(Februari 1943)
Budaya, Th III, No. 8
Agustus 1954




Renungan Untuk Indonesiaku
Oleh Princess Meymey
Indonesiaku!
Sungguh beruntung nasibmu ...
Bertahun-tahun lamanya telah dijajah
Kucuran keringat dan darah tumpah kala itu
Harta sekalipun nyawa di korbankan oleh pejuang
Demi membela Indonesia tercinta 
Kata mereka ...
Tujuh puluh tiga tahun sampai saat ini
Indonesia bebas dari penjajah
Hingga akhirnya bendera merah putih pun berkibar 
Indonesiaku!
Sungguh malang nasibmu ...
Engkau berada di tangan penjilat harta dan tahta
Haus akan nikmat fana di dunia ini
Benarkah Kau t'lah merdeka? 
Indonesiaku!
Banyak harap yang terselip saat bendera berkibar
Tak ada lagi penjajah terselubung di negeri ini
Tak ada lagi peperangan antar golongan apapun
Tetaplah damai Indonesiaku tercinta 
Malulah pada burung garuda
Meski ada ketidakadilan di negeri ini
Ia tetap bertengger untuk Indonesia 
Bebaskanlah negeri dari semua penjajah
Biarkan damai untuk mencapai tujuan bersama
Renungkan apa yang telah kita berikan untuk Indonesia
Benarkah Indonesia ini telah bebas dari penjajahan? 
Kata mereka ... Indonesia telah merdeka!
Tapi ... renungkanlah kembali hal itu
Kilas balik dengan para pahlawan Indonesia
Yang telah gugur demi melawan penjajah 
Bersatulah Indonesiaku!
Bersatulah untuk negeri tercinta!
Tetap kibarkan bendera kemenangan
Berantas penjajah yang ingin merusak
Merdeka! Merdeka! Merdeka! 
Palembapang, Kalianda, Lamsel
(18 Agustus 2018)


Di Mana Pemuda Bangsa?
Oleh : Rika Anandya Fitriani


Dulu, mereka terjun di medan pertempuran
Korbankan kebahagiaan

Kekayaan pun tak dihiraukan

Hanya demi satu kejayaan



Mereka jatuh

Saling menumpahkan darah
Mencoba bangkit
Namun kembali terjungkit

Mereka telah berjuang demi kita
Demi sebuah bangsa yang sangat dicinta
Mereka berkorban demi kita
Demi bangsa tempat menghabiskan hari tua

Kini ...
Di mana kita?
Di mana anak bangsa yang dulu dijaga?
Di mana balas jasa terhadap mereka?

Justru kini semua terlupakan
Jasa mereka tak lagi dihiraukan
Anak bangsa yang dulu dicinta
Anak bangsa yang menjadi harapan mereka
Kini bertebar entah ke mana

Perjuangan yang dulu hampir sia-sia
Melihat kini betapa menyedihkannya kita
Betapa hancurnya bangsa kita
Karena para penerus bangsa yang tak peduli akan jasa mereka

Penerus bangsa yang menjadi harapan
Kini terlihat terlunta di jalan
Dengan aksi kebut-kebutan
Dengan ulah yang tiada terelakan
Membuat pahlawan menangis di bawah nisan

Di mana para penerus bangsa kini?
Di mana para pelajar yang harusnya menjadi panutan?
Di mana para pemuda pemudi yang penuh dengan mimpi bukan ambisi?

Sedih ...!
Bangsa ini kehilangan penerusnya

Sedih ...!
Negeri ini kehabisan generasinya
Generasi yang kaya akan ilmu dan tata krama
Kini terganti dengan mereka yang hanya bisa hura-hura

Bagaimana nasib Indonesia
Jika pemuda bangsa tak menghargai jasa mereka
Jasa para pahlawan yang telah tiada
Demi merdekanya Indonesia

Bangkitlah pemuda bangsa
Jangan terlalu lama terlena dengan dunia
Tunjukan pada dunia, ini Indonesia
Bangsa yang tidak hanya bisa terlunta

Ingatkan pada semua
Bangsa ini butuh pemuda
Yang mampu membangun bangsa
Demi Indonesia, bangkitlah pemuda bangsa 

Babulang, Kalianda, Lamsel(24 September 2018)

Itulah beberapa puisi satire bertema kemerdekaan. Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar tentang puisi di atas. Dan teruntuk saudara-saudariku se-Indonesia, renungkanlah isi pesan yang terkandung dalam ketiga puisi di atas. Siapa lagi yang akan melawan para penjajah dan membuat negeri ini menjadi negeri kebanggaan, bukan menjadi pemuda-pemudi yang haus akan hawa nafsu dan lain sebagainya. Sadarkah atas kekacauan yang telah terjadi di negeri ini? Buatlah Indonesia menjadi panutan untuk negara tetangga.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silakan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar