Skip to main content

follow us



Dahulu, saat jagung baru tumbuh dari tangkainya. Saat segala beban masih ringan. Saat pepohonan masih bersahabat dengan angin dan juga keluguan semesta masih menyaput mata. Itu adalah saat jiwa-jiwa berkejaran dengan penjaganya, bersama bidadari surga berhati mulia. Seorang yang rahimnya dikorbankan menanggung beban, menampung kehidupan yang akan datang di hari kemudian.

Lalu, aku akan menuturkan tentang bidadari milikku, ini dia ....
Seorang yang desau suaranya menenangkan serak-parau tangisku. Tangannya hangat menelungkup sekujur tubuh mungil-telanjangku. Menyibak segala onak-rintang pada jalan-jalan dunia. Memberi pengajaran tentang penghargaan dan penerimaan.

Suatu hari sang bidadari berkata, "Ke marilah, Sayang. Ibu hendak menceritakan kisah seorang ibu dan anaknya yang durhaka." Suara lembutnya menelusup ke gendang suaraku, lalu kubiarkan tertuju pada takzim senyum hangatnya.

Mulailah dia berkata,
"Nak, kamu tahu tentang legenda seorang anak yang dikutuk ibunya jadi batu? Itu terjadi dulu, dulu sekali. Saat jiwamu masih dikandung ghuzanah Tuhan dan saat kami belum jadi penjagamu di dunia ini. Anak tersebut adalah anak yang baik. Sama sepertimu, baik; baik sekali. Namun, kekurangan membuatnya resah, melihat kerentaan ibu semata wayangnya dalam kungkungan gubuk derita, itu menyakiti hatinya. Lalu dia meminta izin agar bisa berlayar menerjang lautan, agar bisa melewati batasannya.

Dengan berat hati yang serasa gompal separuhnya, sang ibu memberikan izin kepada anak tercinta, mutiara hati pelipur lara hari tuanya. Dengan sumringah, si anak bertolak pada samudera biru setelah dirinya dipayungi restu. Dia memimpikan hari-hari hebat, mengubah gubuk derita menjadi istana surga baginya dan sang ibu. Tuhan selalu tahu mana yang terbaik, maka dibiarkanlah sang anak tersebut diterjang badai, terdampar, lalu singgah tanpa sengaja di suatu pulau. 
Dia memulai kehidupan baru di pulau asing dan lambat laun restu yang memayunginya memberi banyak andil.

Tentang keberkahan doa ibu, tentang betapa hebatnya ketulusan hati seorang bidadari surga yang jadi penjaga kita di dunia. Singkatnya, sang anak telah jadi saudagar kaya, tetapi harga mahal harus dibayar. 
Dia kehilangan tawadhunya, lupa tujuannya, dan menjadi bukan dirinya. Pelajaran yang dia enyam dari sang ibu, luluh-lantak digerus nikmat dunia. Hingga harta paling berharga yang dulu dia tinggal sebagai tujuan untuk kembali, kini benar-benar ditinggal dan lupakan.

Sementara, sang ibu merangkai jutaan doa, bagi sang mutiara hati, mungkin hingga langit tak memiliki ruang lagi untuk menampungnya. Betapa hebat doa dan ketulusannya. Satu-satunya sumber kebahagiaan dia relakan pergi agar mendapati dunia dan bahagianya. Kemudian sang anak namanya Mahsyur hingga menyebrang samudera.

Sang ibu menangkap kemahsyuran itu, lantas bertanya, "Mengapa mutiaraku tak jua pulang, sebagaimana janjinya dulu? Aku yang renta sudah hampir sampai batasku menanggung rindu. Merindu senyum manisnya, merindu mengusap rambutnya, bahkan merindu mendengar dengkur lelahnya kala malam. Mengapa tak jua pulang, Nak? Aku mampu menanggung semua bentuk derita dan mengenyam berbagai sulit, tapi tidak dengan jauh darimu. Kamu mutiara paling berhargaku. Pulanglah, Nak! Ibu rindu."

Sang ibu begitu rajin meneror langit dengan segenap doa dan rindunya, hingga tiba suatu masa itu semua meledak, tak mampu tertanggung lagi. Sang ibu memutuskan mencari mutiaranya di kejauhan. Maka, bertolaklah dia menuju tempat di mana kemahsyuran mutiaranya berasal.

Di perjalanan, sang ibu bersenandung akan kerinduan disertai bahagia akan segeranya meletus pertemuan. Wajah rentanya segar tertimpa cahaya mentari. Mulutnya yang biasa kelu berceloteh layaknya burung pipit yang bernyanyi. Sudah lama wajah itu hilang dan akhirnya dia nampakkan lagi.

Setelah halau-rintang samudera terlewat sang ibu singgah di tanah yang menyimpan mutiaranya dan dengan segala binar bahagia di hatinya, sang ibu membayangkan wajah mutiaranya, betapa hebat putranya sekarang dan betapa bangga dirinya akan hal itu. Namun harap dan realita terkadang tak kompak, tak sejalan, hingga menghadiahkan sang pengharap kekecewaan. Sang ibu mendapati anaknya yang paling gagah, tampan, dan baik.

Dia tengah berdiri di sebuah balkon yang nampak bagai mimbar keagungan raja-raja di legenda yang pernah didengar, sembari bergumam, "Itu mutiaraku ....”

Maka, layaknya gunung merapi yang tak mampu menanggung lahar yang dikandungnya, sang ibu berlari berusaha menyibak kerinduan yang tinggal beberapa langkah lagi terentaskan. Digenggamnya tangan sang mutiara hilang itu, lalu dipeluknya penuh haru dan rindu. Alih-alih harap disambut hangat, sang ibu terenyak, karena tubuh renta-lelahnya dihempas menjauh dari mutiara yang dulu dijaganya, bahkan hingga detik ini pun dia menjaganya, tersuruk pada debu-debu di atas permukaan tanah. Sang ibu tersenyum, senyum kerinduan sekaligus bingung mengapa mutiaranya yang begitu dicintai menjauhkan diri darinya. Tanpa berpikir apa pun, sang ibu mendekat berusaha menjangkau mutiaranya, bertanya tentang kabar dan konfirmasi tentang sang mutiaranya.

Ibuku bertutur lembut sembari terlihat bulir bening menggantung di sudut-sudut matanya, lalu bertanya padaku, "Kamu tahu, Nak, apa yang terjadi?"

Aku menggeleng takzim terus menujukan perhatian pada ibu.

Ibu meneruskan kata-katanya, "Sang mutiara hilang menghardik sang ibu dan mengusirnya."

Ibu berkata bersamaan dengan bulir bening yang meluncur menuruni pipinya. Dan aku terenyak mendengar serta melihat ibu, lalu bertanya, "Mengapa dia melakukan itu pada ibunya, Bu?"

Ibu menjawab, "Dunia, Nak! Dunia!"

Dunia benar-benar menghitamkan hatinya yang dulu putih, dunia menjadikannya kejam, padahal dulu dia amat lembut. Dan dunia membuatnya membuang harta terbaik yang dimiliki.

Bak tersambar petir, bak ditikam seribu belati, bak ditenggelamkan air bah, dan bak diremas hatinya. Sang ibu tak pernah membayangkan tentang ini, tentang penolakan, pengingkaran, dan pengkhianatan. Hari itu sang ibu hancur, sehancur-hancurnya. Remuk, seremuk-remuknya. Layaknya kiamat telah datang prematur pada dunianya, dunia yang hampa tanpa mutiara hati.

Dan demi rasa sakit yang tak terkira, kecewa tak terperi, sang ibu berkata, "Dahulu aku adalah kerang yang menampung, menjaga, dan membersamaimu. Kini setelah jutaan cinta, doa, bahkan apa pun di dunia ini, aku haturkan pada Tuhan agar diberi-Nya kebaikan atasmu, engkau melupakan wanita renta ini ...?! Engkau berjanji akan surga, berkata akan menjadikan dunia mudah bagi wanita tua ini, bertabur kebahagiaan di setiap detiknya. Namun kini kamu enyahkan tubuh rentaku, tak mengubris bagai melihat seonggok najis yang datang mendekatimu. Wahai Mutiaraku Sayang, aku telah di penjara rindu bertahun-tahun, dijajah resah sedari hari pertama engkau angkat kaki dari gubuk tua kita hingga tadi akhirnya aku bisa memelukmu. Semua aku tanggung, Nak. Tidak meminta apa pun kecuali dirimu, tidak meminta apa pun kecuali masa-masa aku dapat membelai rambut hitammu, hanya meminta potongan hidup yang meninggalkanku, Nak, agar potongan itu kembali dan melengkapiku yang sudah hampir tiba pada batasnya."

Sang ibu menangis tersedu-sedan, menahan perihnya kenyataan, bahwa belahan jiwa, satu-satunya harta paling berharga yang dimiliki akhirnya mengingkari tentang dirinya. Betapa hancur, bumi layaknya penjara kepedihan dan langit adalah atap-atap penyiksaan, sedangkan wajah mutiaranya kini buram disaput air mata yang menggenangi mata tuanya.

Sang ibu menghentak bumi dan menyalak pada langit dengan segala kesedihan yang begitu dalam. Mungkin lebih dalam dari samudera, tentang betapa kecewanya dia dengan mutiara hatinya. Bertahun dilewati dengan harap akan wajah cemerlang mutiaranya setelah tirai kerinduan tersibak malah lara yang kini didapat.

Malang nian nasib sang ibu, Nak. Dia dicampakkan mutiara hati satu-satunya setelah begitu banyak derita dienyam semasa hidupnya."

Ibuku tergugu dalam tuturnya, menyampaikan tentang empati dan keprihatinan sosok ibu dalam ceritanya.

Lalu, aku bertanya, "Kemudian apa lagi yang terjadi, Bu? air matamu deras meluncur bagai aliran sungai jeram. Apakah kemalangan yang lebih memilukan terjadi?"

Ibuku menjawab, "Bukan kemalangan, Nak, tapi kekuatan dari ketulusan seorang ibu."

Sang anak yang mulai gentar hatinya, mulai sadar akan kesalahannya tanpa disadari meneteskan air mata antara takut, menyesal, atau sedih tak jelas rimbanya. Dia sedikit bergumam bernada rengek, tapi tetap dengan gaya angkuh menatap punggung ibunya yang menangis tersuruk membelakanginya.

Suasana yang cerah berawan tiba-tiba dirangkul mendung gelap dan derai hujan mulai turun menerpa bumi. Sang ibu dengan segala harap dan rindu yang berubah jadi luka, benar-benar terluka, berteriak mengarahkan acungan jari kepada mutiaranya, lalu berkata, "Engkau yang kucinta dengan segenap hati dan hidupku, dengan seluruh ketulusan yang bahkan alam iri atasnya, kini mencampakkanku. Maka demi itu semua, aku memohon kepada langit, batulah anak yang hatinya telah membatu ini. Tunjukkan padanya Tuhan bahwa hatiku sakit, begitu sakit hingga tak mampu kubendung dan tahan lagi!"

Maka dengan kuasa Tuhan, sang anak durhaka yang sudah sedari tadi menangis dan menatap ngeri, memohon ampun pada ibundanya, tetapi itu semua terlambat, benar-benar terlambat. Doa hati yang tulus dipenuhi kasih lagi kebaikan ditambah menjadi korban aniaya dan kedurhakaan, tak mungkin bisa ditolak langit. Jadilah sang anak batu yang tersungkur dalam sujud penyesalan, tak mampu meminta hati ibundanya kembali dan jadi simbol kekuatan hati dan ketulusan seorang yang bernama ibu.

Aku menyeka air mata yang juga jatuh karena entah terharu atau ngeri mendengar sedu-sedan cerita ibu yang penuh penghayatan, seolah ibu sendiri yang jadi tokoh dalam ceritanya.

Lalu ibu berkata padaku, "Anakku sayang, maafkanlah ibu yang mungkin sering menyakiti hatimu, membuatmu marah tanpa ibu sadari, Nak. Sang ibu dikisah tadi bahkan tak pernah membentak mutiara hilangnya seumur hidup yang dimilikinya, tetapi dia masih mendapat apa yang tak pernah ditanam. Semoga engkau senantiasa menjadi anak yang hatinya putih, tak menghitam karena dunia. Menjadi mutiara yang tetap indah meski hilang ditelan rantau dunia. Ibu hanya akan terus menyayangimu semampunya, meminta kebaikan untukmu pada Tuhan setulusnya, Nak. Tetaplah jadi anak ibu walau derita menderamu, walau limpah dunia memelukmu, ibu akan selalu membersamai dalam doa dan ikhtiar yang ibu mampu." Lalu aku tergugu mendengar suara lembut ibu yang jadi parau karena menahan tangis. Aku mengangguk penuh penghargaan dan rasa haru menatap lembut wajah ibu.

Kini di pelataran sajadah, aku bersimpuh menangis mengingat akan ibu yang dulu semasa kecil menjadi mutiara dan bidadariku. Mengajarkan banyak hal dan menjadikan aku pribadi yang orang bilang begitu hangat dan ringan tangan, itu semua aku dapat dari ibu, ibu terbaik yang pernah menjadi cahaya masa kecilku. Dan kini wasiat serta nasihatnya jadi pelita langkahku pada altar dunia yang seringkali menipu.

Ibu, salamku padamu yang kini di surga menatapku, semoga aku tak mengecewakanmu. Sebagaimana daun yang gugur terhempas angin waktu yang maju tanpa bisa diputar lagi dan kasihmu yang tercurah bak mata air yang mengalir tanpa pernah terhenti. Tanpa penyesalan akan sebuah harapan, semoga aku menjadi wujud harapan yang dulu semasa hidupmu, kamu semogakan.


Lampung, 09 Oktober 2017




Penulis : Mujahid Berpena
Editor : Princess Meymey

You Might Also Like:

Comment Policy: Silakan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar