Skip to main content

follow us

Irma Dewi Meilinda. Mungkin sebagian sudah mengenalnya, apalagi teman-teman penggiat literasi. Namanya menggemparkan dunia literasi ketika media meliput. Ia adalah penulis asal Lampung, yang lahir di Kalianda pada tanggal 12 Mei 1993. Bergelut di dunia literasi seakan menjadi kebahagiaan tersendiri dalam hidupnya. Terlahir dalam keluarga yang notabene pecinta seni, membuat perempuan berusia 26 tahun ini memiliki banyak harapan dalam upaya mengguncang dunia dengan ide-ide kreatifnya.

Beberapa orang terutama penulis se-Nusantara, mengenalnya dengan nama Princess Meymey. Nama pena yang ia patenkan sejak SMP. Sejak kecil memang bercita-cita sebagai penulis dan pengusaha. Sempat waktu ditanya keluarga, 'kalau sudah besar mau jadi apa?' Ia menjawab mantap, ingin jadi 'perawat'. Yah, namanya juga cita-cita Anak-anak yang belum menemukan jati diri sebenarnya, padahal sejak kecil sudah mulai terlihat kemampuan yang dimiliki. Dari mulai senang mendongeng dan membuat suatu karangan, baik fiksi maupun non-fiksi.

Perempuan bermata sipit, berkulit kuning langsat ini sangat sensitif. Kepekaannya terhadap sesuatu, membuat ia akan cenderung memikirkan apa yang terjadi. Misalkan, ketika ada masalah, ia pasti kepikiran sampai terkadang mengganggu tingkat kefokusannya dalam mengerjakan sesuatu. Biacara soal karya, baik cerpen maupun puisi atau karya lainnya; sudah terbit di beberapa penerbit termasuk penerbit yang ia dirikan pada 02 Agustus 2015.

Perjalanan anak ketiga dari Bapak Zainuri Syamsiar dan Ibu Mismeli ini untuk bisa sampai pada gerbang menuju kesuksesan tidaklah mudah. Banyak lemparan batu yang mengenai mukanya. Bahkan hampir jatuh ke jurang yang sangat dangkal.

Namun, bersyukur masih banyak orang-orang tulus yang berbaik hati untuk terus mendukung dan memberikan apresiasi atas ide-ide yang diciptakan. Termasuk dipercaya menjadi ketua pada komunitas yang sangat luar biasa, yang sudah mendunia.

Komunitas Penulis Kreatif! Yah, KPKers adalah singkatan dari organisasi kepenulisan tersebut. Irma atau kerap disapa Meymey ini, pada tanggal 06 November 2015 telah dipercaya untuk memimpin Lampung. Seperti mimpi, saat itu ia belum banyak pengalaman tentang literasi terutama tulis-menulis, sebab tulisannya saja masih perlu banyak revisi kala itu.

Qodarullah, menjadi ketua KPKers Lampung adalah amanah yang memang harus benar-benar dijaga dengan baik. Tanggung jawabnya berat tapi dijalani dengan ikhlas dan penuh kesabaran.

Ayahnya adalah seorang pensiunan di salah satu bank ternama; BRI. Sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Dari silsilah keluarga yang pernah ia paparkan pada saat diwawancara oleh Pak Dedi (wartawan TRIBUN LAMPUNG), sang kakek yang dulu satu-satunya memiliki toko buku di Kalianda. Menjadikannya memiliki tekad untuk punya toko buku sendiri atau minimal punya sebuah perpustakaan khusus untuk orang-orang yang mencari referensi, terutama yang gemar membaca.

Sangat jarang ada keluarga kompak seperti ini, dari kakek yang punya toko buku, nenek gemar berpantun, ayah yang dulu menari, ibu dan kakak perempuan yang gemar membaca, kakak laki-laki yang gemar bermain musik dan melukis, adik perempuan pertama yang hobi melukis dan si bungsu yang mengikuti jejak sang ayah; menari. Hanya adik laki-lakinya yang berbeda, menyukai dunia teknologi. Apa pun itu, semua butuh proses dan harus terus berproses.

Salah satu yang membuat semua orang bangga terutama keluarga adalah semangatnya dalam berkarya. Meski sakit sekalipun, terkadang ia menyembunyikan rasa sakit itu dengan senyuman.

Buku yang sudah terbit karya solonya, yaitu:
1. Endless Love, kumpulan puisi, Penerbit Uwais, 2015
2. Love Story, novel, Penerbit Uwais, 2016


Dan beberapa karyanya ada dibuku antologi bersama teman-teman penulis se-Nusantara.
Bicara soal penerbitan, sebelum memutuskan untuk memiliki penerbitan sendiri, ia sempat menjadi admin dan membantu teman penulisnya mengurus sebuah penerbitan indie. Tapi, berjalan beberapa bulan—semua terasa aneh! Ia pun mencari tahu sebab-musababnya, hingga akhirnya memutuskan untuk resign. Bukan hanya itu, banyak hal lain yang menguras emosi dan tenaganya pada kerasnya kehidupan dunia maya. Cyber crime membuat darahnya mendidih, bahkan sampai sekarang. Singkat cerita, penerbitan yang ia dirikan diberi nama INDIE DIGITAL MEDIA (IDM) PUBLISHING, 02/08/2015.

Perjalanan studi yang sudah dilalui, yaitu:
1. TK Aisyiyah Bustanul Athfal (1th)
2. SD Negeri 2 Palembapang (6th)
3. SMP Negeri 1 Kalianda (3th)
4. SMA Pembangunan Kalianda (3th)
5. Perguruan Tinggi Teknokrat Bandar Lampung yang kini berubah nama menjadi Universitas Teknokrat Indonesia (3th)

You Might Also Like:

Comment Policy: Silakan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar