Skip to main content

follow us


Dalam menulis sebuah karya termasuk puisi, pasti terdapat ide-ide yang biasanya sering muncul secara tak terduga. Semisal ketika sedang menunggu kekasih selesai berdandan kita melihat dua buah jeruk yang menempel, seakan asyik berbisik membisikkan sesuatu yang kita tak tahu. Setelah itu kita tuliskan dengan utuh, tetapi pada saat menulis sering adanya hambatan. Dengan demikian, kita perlu adanya strategi dan jurus-jurus dalam menulis puisi.

Menulis puisi juga punya jurus dan strategi khusus. Di dalam buku 'Yuk Nulis Puisi' yang ditulis oleh Tjahyono Widarmanto, mengemukakan bahwa ada enam jurus atau strategi khusus dalam menulis puisi.


1. Jurus Menabur dan Menghayati Cinta

Puisi yang menggambarkan cinta lebih sering ditemukan. Cinta itu tema yang abadi dalam kehidupan. Setiap makhluk yang bernyawa—wabil khusus manusia—pasti pernah menyentuh dan bersentuhan dengan cinta. Cinta bisa berupa sukacita, bahagia, sarat akan pengharapan. Ada juga cinta yang kecewa, kesedihan, iba, sakit hati, dan keputusasaan. Singkat kata, cinta merupakan pengalaman hidup yang dialami oleh setiap orang. Puisi dengan menaburkan cinta dan menghayatinya adalah jurus pertama.

Simaklah puisi di bawah ini yang menaburkan cinta dan pengharapan.

"(Bangun) Cinta"

Bayangkan, aku adalah duri
Yang menopang sang kelopak mawar
Melindungi dari segala benalu di dunia

Bayangkan, aku adalah pondasi
Yang menopang rumah akan tetap berdiri
Memberikan kesejukan di dalam ruang hangat ini

Terpikir khayalanku untuk jatuh cinta
Namun bila kuingat, jatuh akan terasa sakit rasanya
Tetapi jika aku berniat

Berniat membangun cinta
Membangun rumah tangga
dengan segala harmonisasi keindahan sang pencipta

Ditemani lentera malam yang temaram
Menerangi angkernya malam
Aku tidak ingin jatuh cinta kepadamu
Karena pasti akan sakit rasanya bila terjatuh

Satu yang pasti, aku ingin membangun cinta
Bersamamu, mutiara kasihku


Samarinda, 27 Februari 2013
(Aswan, 2016:4)


Puisi di atas menggambarkan bahwa jika kita mencintai seseorang, janganlah sampai membuatnya merasa tersakiti, tapi buatlah ia merasa bahagia dengan membangun hubungan-hubungan baik dalam mencinta.


2. Jurus Jejak Rekaman Peristiwa

Ide dalam menulis puisi juga bisa kita dapatkan dari jejak-jejak rekaman peristiwa yang pernah terjadi atau bahkan penulis sendiri yang mengalaminya. Kita sering berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang tak bisa lepas dari ingatan kita. Menulis puisi dengan jurus merekam jejak peristiwa yang pernah terjadi juga bisa kita jumpai pada penulis puisi. Salah satunya adalah puisi 'Dongeng Marsinah' yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono.

"Dongeng Marsinah"

/1/
Marsinah buruh pabrik arloji, mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.

Marsinah itu arloji sejati, tak lelah berdetak
memintal kefanaan yang abadi:
“Kami ini tak banyak kehendak,
sekadar  hidup layak sebutir nasi.”

/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
"Itu sangat berbahaya.”

Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“Dan harus dikembalikan ke asalnya, debu.”

/3/
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lengkingan detiknya tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangannya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak,
Marsinah pun abadi.

/4/
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas,
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.

Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan—
sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya inti kekejaman?
Apakah sebenarnya sumber keserakahan?
Apakah sebenarnya azas kekuasaan?
Dan apakah sebenarnya hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Duh, Gusti! Apakah pula makna pertanyaan?

/5/
“Saya ini Marsinah, buruh pabrik arloji.
Ini surga, bukan?
Jangan saya diusir ke dunia lagi.
Jangan saya dikirim ke neraka itu lagi.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)

“Sengsara betul hidup di sana
jika suka berpikir,
jika suka memasak kata;
apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)

“Saya ini Marsinah,
saya tak mengenal wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)

/6/
Marsinah ini arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya
setiap pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.

(1993-1996)
(Damono, 2017:21-26)


3. Jurus Mengungkap Pikiran

Yang dimaksud mengungkap pikiran adalah menulis puisi bisa berangkat dari ungkapan pemikiran. Melalui puisi, seorang penyair bisa mengemukakan pemikiran-pemikirannya terhadap persoalan sosial, ekonomi, budaya atau politik.

Simak satu buah puisi berjudul 'Seperangkat Mas Kawin' yang ditulis oleh M. Nata dalam bukunya 'Catatan Lapar dan Haus'.

"Seperangkat Mas Kawin"

Kekasihku,
tahukah kau bahwa biaya kuliah memang mahal?
Tapi setelah lulus nanti,
lapangan kerja semakin sulit dicari
jika hanya mengandalkan ijazah S1
Maukah kau bertukar mas kawin
dengan seperangkat Ijazah S1
dan beberapa sertifikat seminarku?

(Yogyakarta, 2017)


M. Nata pada puisinya di atas menggambarkan bahwa keadaan ekonominya sedang tidak baik-baik saja. Untuk urusan kuliah, terbilang mahal. Apalagi untuk melamar kekasihnya. Pemikiran-pemikiran yang ingin M. Nata tawarkan di sini adalah bahwa keadaan finansial yang tidak baik.


4. Jurus Berjejak Mitologi Meneropong Kisah-Kisah Lampau

Secara substansi selalu mengantarai masa lalu dan masa depan. Jurus yang satu ini bisa dikatakan sebagai salah satu produk bahasa yang memendam dan menyiratkan bilik-bilik tradisi.

Simak salah satu puisi Tjahjono Widarmanto di bawah ini yang bersumber dari mitologi pewayangan.

"Kuping Kunti"

di kupingmu dicatat sejarah
kelak seorang lelaki
tak punya silsilah
terkutuk oleh laku
selingkuh yang dibalut cahaya

di kupingmu dicatat sejarah
lelaki yang mengelus roda kereta
merindu mahkota

ibu, di lubang kupingmu itu
telah disimpan dendam masa lalu
tak lagi bisa kuterka wajah saudara sendiri.

(Batu-Malang)


5. Jurus Akrostik

Di antara jurus-jurus yang telah dipaparkan, jurus akrostik inilah yang sering dijumpai—bagi penulis. Akrostik adalah teknik menulis puisi pada huruf pertama di masing-masing baris akan membentuk sebuah kata bila dibaca secara menurun atau vertikal.

Simak beberapa puisi akrostik di bawah ini.

"Kau Anugerah Terindahku?"

Benarkah kau makhluk Tuhan
yang dicipta dari rahim dan tercipta hanya untukku?
Orang-orang berkata demikian.
Tapi aku meragukan eksistensi akan hadirmu untukku
Haruskah aku katakan sesuatu padamu
ketika kutatap punggungmu yang berdamping
bersama punggung-punggung yang bukan aku
Orang-orang pun telah tahu bagaimana engkau
yang katanya anugerah terindahku hanyalah palsu
Naluri dan kata manis yang kau lontarkan pada bait puisi
ternyata hanya bayang semu yang menjemu
Gila! Apakah kau masih bisa kusebut anugerah terindahku?

(Ladang, 15 Mei 2016)
(Aswan, 2018:33)


Puisi tersebut berjudul 'Kau Anugerah Terindahku' yang ditulis oleh Panji Aswan dalam buku 'Tentang Rasa Ini, Aku Masih Menunggumu'. Puisi tersebut menggambarkan sebuah kebohongan kekasihnya yang diam-diam bermain-main dengan cinta. Bila dibaca secara vertikal, huruf-huruf yang dikapitalkan membentuk sebuah kata, yaitu BOHONG.

Mari simak juga puisi berikut ini, masih dengan gaya akrostik.

"Pada Sebuah Nama (1)"

Firasat Ini berkata bahwa kau adalah makhluk Tuhan paling indah tiada mendua
Indah kala menatap bayang wajah keturunan Hawa
Tergerai syahdu rambutmu pada sebuah pigura yang bernyawa
Renyah perangai itu membuatku serbawa suasana pada riang tawa
Indah kala menatap matamu walau hanya sebatas pigura yang (masih tak) bernyawa
Namamu selalu terngiang di pelupuk mataku
ketika kucoba untuk berpejam merehatkan jiwa yang lelah
Untuk kesekian kalinya aku mencoba mengatakan kepada gemerlap bintang yang tak bertitah
Rangkai sebuah nada ingin kucipta untukmu melalui suara hati yang menggila
Harus kuakui
Aku akui, aku seperti dandelion rapuh beterbangan menjelajah awan
Yang harus jatuh pada tempat yang tepat untukku tumbuh dan berkembang
Aku harapkan, itu adalah kau
Tempat ternyaman untuk diriku menjadi sebuah hamparan dandelion yang memutih
Inilah pencapaianku, pencapaian yang ingin aku capai bersamamu

(Taman Budaya, 10 Mei 2016)
(Aswan, 2017)


Puisi akrostik ini masih ditulis oleh Panji Aswan berjudul 'Pada Sebuah Nama (1)' yang dimuat dalam bukunya, 5 (LIMA): 'Ketika Ia Menemani Tidurku' di tahun 2016. Kemudian diterbitkan ulang dengan judul baru yaitu 'Pada Bulan-Bulan' setahun berikutnya. Jika dilihat, huruf pertama yang dikapitalkan pada setiap bait membentuk sebuah nama, yaitu 'FITRI NURHAYATI'.


6. Jurus Rangsang Film, Lagu, atau Lukisan

Puisi bisa juga ditulis dengan rangsangan ketika melihat sebuah objek lukisan, mendengarkan lagu, atau bahkan menonton film sekali pun. Segala yang kita lakukan—baik itu melihat, mendengar, atau merasakan—bisa dijadikan sebuah ide dalam puisi.

Simak dua buah puisi yang ditulis oleh Panji Aswan berikut ini:

"Pada Malam Sampek Engtay"

Sekilas, tak ada yang lebih berharga dari malam-malam sebelumnya.
Hanya riuh suara manusia-manusia yang berkumpul pada anak tangga
dan kita duduk berlesehan di sebelah Dahri Dahlan,
menunggu datangnya sepasang manusia melakoni cerita.

Malam itu, Tuan Sampek dan (Tuan) Engtay
bertemu pada persimpangan jalan menuju sekolah silat Betawi,
mencari menelusuri dan memutar-mutar hingga akhirnya lelah.

Kemudian berucap sumpah, menjadi saudara.
Telah setahun berlalu, Tuan Sampek tidur bersama (Tuan) Engtay.
Kebodohan yang menyelimuti kepalanya membuat tak sadar
bahwa sebenarnya ada daging empuk di dalam kamarnya.

Kemudian pada akhirnya, mereka saling membuka.
Sampek membuka celana, Engtay membuka dadanya.
“Temui aku pada dua dan delapan! Tiga dan tujuh! empat dan enam!”
Masih saja ia bodoh, hanya mampu mengartikan yang tersurat.

Ditemuinya (Tuan) Engtay di angka tiga puluh
harapannya yang ingin bahagia, tapi berujung betapa.
Telah dijodohkannya dengan pria lain, dari negeri Rangkasbitung.

Berjalan Engtay menelusuri pemakaman
sambil ia menusukkan tusuk konde tiga kali pada kubur.
Terhisap Engtay menyatu di kubur Sampek
hingga selesailah lakon cinta sehidup semati.

Berjalan kita menyusuri ruang lapang bergandeng tangan.
Kemudian berpisah setelah kukecup tanah lapang
yang terpasang di wajahmu.

(Samarinda, 5 November 2016)
(Aswan, 2018:58)


"Seperti Mengudara"

Seperti mengudara
Kan aku bawa dirimu kasih untuk menikmari udara
Bersama genggam erat bertemankan matahari menghadap utara
Berhias langit biru dan pantulan beberapa pendar cahaya berwarna

Kasih!
Kaulihat lukisan ini?
Sepasang balon udara yang siap mengelilingi bumi
Seakan mengajak kita untuk bercanda, bernyanyi bersama burung-burung besi melintas cakrawala
Tapi kau tahu, tidaklah muat bila ia melintas di antara kita
Karena sepasang jantung kita saling berbicara pada satu nama
Ya: cinta

Kasih!
Pada lukisan ini, seuntai basah yang terhampar pada bawah datar
Satu nama telah kita sebut pada jantung-jantung yang bergetar

Lihatlah!
Bahkan ia yang berbicara ini, terlihat suci dari bawah sana
Dari desas-desus kabar angin yang ingin memisahkan
yang telah tertataTepat: cinta

Kasih!
Cinta adalah lukisan yang telah kita lihat berdua
Kau dan aku akan terbang seperti udara, tanpa lelah yang terkata

Yakinlah, cinta kita akan sampai ke batasnya
Bersama balon-balon yang mengudara
atas seizin Tuhan yang Maha Kuasa

(Samarinda, 17 Juni 2016)
(Aswan, 2018:86)


Bisa dilihat, dua puisi di atas yang ditulis oleh Panji Aswan memiliki keterkaitan dengan jurus yang terakhir ini. Pada puisi yang pertama, Panji menggambarkan sedang menonton sebuah pentas lakon atau drama yang berjudul Sampek & Engtay, bisa dilihat dari penggunaan diksi yang tak jauh hubungannya dengan menonton teater. Sedangkan puisi kedua Panji menggambarkan melihat lukisan balon udara.

Nah, itulah enam jurus yang bisa kalian pelajari dan aplikasikan ke dalam puisi-puisi yang ingin kalian buat. Tentu saja, teori akan tidak berguna bila kita tidak mempraktikkannya langsung.



Daftar Pustaka

Aswan, Panji. 2016. Curahan Hati Pelacur Sajak. Blora: Pena House.
___________. 2017. Pada Bulan-bulan. Lamongan: PPMPI Publisher.
___________. 2018. Tentang Rasa Ini, Aku Masih Menunggumu. Kendal: Ahsyara Media.
Damono, Sapardi Djoko, 2017. Ayat-ayat Api. Jakarta: Gramedia.
Nata, M.. 2018. Catatan Lapar dan Haus. Yogyakarta: Muda Bersenjata.
Widarmanto, Tjahjono. 2018. Yuk Nulis Puisi. Yogyakarta: Laksana.



Penulis : Panji Aswan
Editor : Princess Meymey

You Might Also Like:

Comment Policy: Silakan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar