Apa Semua Puisi Harus Bermajas? - The Puisi

Apa Semua Puisi Harus Bermajas?




Puisi membentuk bermacam unsur, salah satunya adalah majas atau gaya bahasa. Majas dalam penciptaan puisi diartikan sebagai cara menyatakan suatu maksud dengan cara menyamakan, membandingkan, menyindir, menegaskan, mempertentangkan sesuatu dengan yang lain, yang memiliki hubungan tertentu. Sebagai contoh, untuk melukiskan keadaan seseorang yang sedang merindu dinyatakan dengan hujan, cita-cita yang tinggi dinyatakan sebagai menara atau awan, orang tinggi dinyatakan sebagai tiang listrik, dan lainnya.

Majas atau figurative language adalah bahasa kias. Bahasa yang digunakan untuk menciptakan efek tertentu. Majas merupakan bentuk retoris yang pengunaannya antara lain untuk menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak atau pembacanya.

Pertanyaannya, apakah menulis puisi harus menggunakan majas?

Seperti yang sudah kita terangkan di atas, yang inti sarinya adalah puisi yang menggunakan majas akan terkesan lebih indah dalam pengucapannya, pun dari tata bahasa. Tapi untuk penulis pemula, mungkin bisa dilatih dengan minimal bisa menuangkan kata-kata ke dalam bentuk tulisan dulu, jika sudah berhasil, maka bisa dibubuhi majas-majas yang sesuai dengan puisi tersebut. Diksi-diksi yang apik pun akan terkesan lebih bermakna.

Berikut ini contoh puisi singkat yang bisa dijadikan acuan untuk belajar. Tapi tidak untuk diakui sebagai hak cipta ya, guys! Ingat hukum hak cipta tulisan yang pernah kita bahas sebelumnya.

Mustahil Bisa Mengulang Waktu
oleh Princess Meymey

Rintik hujan datang menyapa pagi
Matahari mengalah dan bersembunyi
Roda dua dan empat berlomba-lomba
Mengejar waktu ke tempat tujuannya

Terkadang ingin putar arah
Menyusuri lorong waktu
Tapi mustahil 'kan ditempuh
Sebab, semua sudah berlalu

Lampung, 07 Maret 2019

0 Komentar untuk "Apa Semua Puisi Harus Bermajas?"

Post a Comment

ADS atas Artikel

ADS Tengah Artikel 1

ADS Tengah Artikel 2

ADS Bawah Artikel