Skip to main content

follow us


Agar bisa menghasilkan tulisan yang apik, penulis seringkali menggunakan diksi dan majas yang tepat untuk tulisannya, khususnya tulisan fiksi. Mereka lebih senang bersembunyi dibalik idiom-idiom agar tidak ada yang tahu pasti makna dari tulisannya. Pembaca hanya akan membuat pra-duga. Entah tulisan itu dibuat hanya rekayasa ataupun kisah nyata, hanya penulislah yang tahu kebenarannya.

Baiklah kita bahas sedikit pengertian DIKSI dan MAJAS! Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Sedangkan majas adalah gaya bahasa yang digunakan penulis untuk menyampaikan sebuah pesan secara imajinatif dan kias. Hal ini bertujuan membuat pembaca mendapat efek tertentu dari gaya bahasa tersebut yang cenderung ke arah emosional.

Terutama dalam pembuatan puisi dan prosa, tidak heran jika banyak penulis yang menuangkan tulisan dengan diksi-diksi dan majas sebagai bumbunya.

Menurut KBBI, berikut penjabaran tentang puisi,
puisi/pu·i·si/ n 1 ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak;
-- bebas puisi yang tidak terikat oleh rima dan matra, dan tidak terikat oleh jumlah larik dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap larik;
-- berpola puisi yang mencakupi jenis sajak yang susunan lariknya berupa bentuk geometris, seperti belah ketupat, jajaran genjang, bulat telur, tanda tanya, tanda seru, ataupun bentuk lain;
-- dramatik Sas puisi yang memiliki persyaratan dramatik yang menekankan tikaian emosional atau situasi yang tegang;
-- lama puisi yang belum dipengaruhi oleh puisi Barat, seperti pantun, gurindam, syair, mantra, dan bidal;
-- mbeling sajak ringan yang tujuannya membebaskan rasa tertekan, gelisah, dan tegang; sajak main-main;

Coba simak kalimat di bawah ini, yang menggunakan diksi dan majas-majas. Bisa dibilang majas hiperbola dan personifikasi karena penggambarannya mengibaratkan benda mati dengan kalimat yang sedikit berlebihan.

Ombak sudah lama mengguncang lautan, tapi dibiarkan terus-menerus menerjang. Bagaimana jika terjadi tsunami? Jika ombak menjelma menjadi tsunami, penyesalan pun tiada berguna. Mengapa tak ambil tindakan sebelum terjadi tsunami? Entah hati sudah tertutup atau bagaimana, cuma titip pesan, "cegahlah sebelum hal yang tidak diinginkan benar-benar terjadi. Bila kemarin dan hari ini masih bisa santai, maka berbenahlah untuk esok dan seterusnya."

Laut memang sudah bergelombang. Giliran langit ikut geram, memaki dengan keras dan memercikkan air yang kian deras. Amukan angin yang saling bersahutan pun ikut mengadili. Sejauh ini, masih bisakah bersantai ria? Menyepelekan waktu tanpa memikirkan ke depan. Entahlah! Semua seakan percuma!

Dari contoh kalimat yang ditulis oleh Princess Meymey di atas, silakan diterjemahkan maknanya. Bisa menjadi bahan belajar untuk membuat tulisan dengan menggunakan diksi dan majas yang dibutuhkan.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silakan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar