Skip to main content

follow us




Dalam memaknai cinta setiap orang memiliki caranya masing-masing. Namun saat ditelisik lebih dalam, cinta memiliki beberapa ciri yang paling menonjol dalam eksistensinya. Sebagaimana dalam penjelasan ustad Fahruddin Faiz dalam ceramahnya. Beliau menyampaikan setidaknya ada tujuh tanda cinta menurut para ahli tasawuf, salah satunya Maulana Jalaluddin Rumi.

Tujuh tanda atau ciri dari cinta itu adalah:
1. Kasrotul dzikri (selalu ingat)
Saat seseorang jatuh cinta, maka orang tersebut akan selalu mengingat apa yang dicintanya. Orang tersebut mengingat tanpa dipaksa, karena baginya—mengingat yang dicinta adalah suatu kenikmatan. Dalam kondisi apa pun dan bagaimanapun, seseorang ini akan senantiasa mengingat apa yang dicintanya. Maka di dalam Al Qur’an banyak sekali anjuran untuk berzikir kepada Allah, salah satunya dalam surat Ali Imron ayat 191.

Terjemah Arti:
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Maka, orang yang sudah jatuh cinta dengan cinta yang dalam ruang hatinya akan dipenuhi dengan apa yang dicinta. Baik itu cinta kepada Allah, keluarga, sahabat, saudara, ataupun kekasih. Misalkan mencintai kekasih kita, maka tidak perlu dipaksa menanyakan; “apakah kamu rindu aku?” atau “apakah kamu mencintaiku?” Jika masih ada paksaan atau masih harus diingatkan, maka itu belum cinta namanya.

2. Al I’jab (kagum)
Dalam mencintai, pasti kita akan melihat sesuatu yang istimewa dalam diri seseorang tersebut. Sebab itulah kita kemudian menjadi kagum atasnya. Dari rasa kagum itu, kita memiliki alasan untuk mencintainya. Ada yang istimewa dan menarik dalam dirinya. Dalam suatu kasus pasangan, apabila saat ditanya perihal bagaimana kekasihnya atau apa yang istimewa darinya, lalu kita tak mampu menjawab dengan layak, misalnya kita berikan jawaban “kekasihku biasa-biasa saja.” Nah, ini adalah suatu hal yang ironi! Orang cinta pasti akan mengatakan atau minimal membeberkan kelebihan kekasihnya, keistimewaan dari diri orang yang dicintanya. Begitu pun kepada Allah, kita yang cinta pada-Nya pasti akan senantiasa takjub akan segala kuasa-Nya dan itu dapat menjadi landasan cinta kita semakin subur dan kuat untuk-Nya.

3. Ridha (rela)
Rida terhadap setiap keputusan Allah adalah salah satu tanda cinta kepada-Nya. Tidak mengeluh atas apa yang Dia kehendaki. Senantiasa menerima setiap pemberian-Nya dengan ikhlas dan lapang dada.  Saat Allah menghendakimu susah, kamu menerimanya dan saat Allah memberikanmu mudah, kamu pun menerimanya. Masalah ridha atau ikhlas ini adalah sesuatu yang datang dari perasaan, tak bisa dipaksakan. Hal ini terjadi sebab kamu telah cinta kepada Allah dan telah ridha atas segala yang Dia takdirkan kepadamu.

4. Al Tadhiyyah (mau berkorban)
Mengorbankan waktu, tenaga, harta demi orang yang kamu cinta. Ini menandakan kamu telah cinta. Sebagai contohnya adalah Zulaikha. Dia sangat mencintai Yusuf, maka dikorbankan segala apa yang dia punya, sedari awal Yusuf dia beli hingga akhir hartanya habis. Ini sebab dia benar-benar cinta. Begitu pun seorang hamba kepada Allah. Saat kita mencintai Allah, maka kita akan mengorbankan apa yang bisa kita korbankan untuk-Nya. Sebagaimana para sahabat terdahulu.

5. Al Khouf (rasa takut)
Saat mencintai, kamu akan merasakan takut. Takut kehilangan, takut berpisah dengan dia yang kamu cintai. Jika kamu cinta dengan seseorang tetapi tidak takut kehilangannya, maka cintamu itu patut dipertanyakan ke-shohih-nya. Pernah dengar istilah “hubbud-dunya” ini adalah salah satu cinta yang banyak menimpa manusia saat ini. Maka, ketika kita sudah mencintai dunia, dunia akan selalu ada di hati kita. Takut kehilangannya, takut meninggalkannya. Seharusnya kita takut ketika Allah tak lagi mau mencintai kita. Kita harus takut dan khawatir Allah murka, takut dan cemas jika kita tak lagi termasuk hamba yang dirahmati-Nya (naudzubillahi min dzalik).

6. Ar-Roja’ (penuh harapan)
Ketika mencintai seseorang, pasti kita memiliki harapan-harapan akan orang yang kita cinta. Sebagaimana dahulu para sahabat selalu berharap agar dapat dekat dengan Rasulullah, agar selalu bersama. Salah satu sahabat yang begitu terpukul saat Rasul wafat adalah Umar bin Khottob. Saat itu bahkan Umar sangat marah kepada setiap orang yang berani mengatakan Rasul telah wafat. Itu semua terjadi sebab di dalam hatinya penuh dengan cinta kepada sang kekasih Allah. Maka selama hidupnya, harapan untuk selalu bersama Rasul begitu besar. Dan jika para pembaca (artikel ini) memiliki pasangan yang tak melakukan ini (begitu mencintai sehingga dia banyak mengharapkan selalu bersamamu), maka cintanya patut dipertanyakan.

7. At Thoat (patuh)
Patuh adalah ciri terakhir dari seseorang  yang jatuh cinta. Dia akan senantiasa patuh kepada orang yang dicintainya. Berusaha menyenangkan hati sang kekasih dengan kepatuhannya. Dalam mencintai baik kepada sesama (manusia), entah itu orang tua, pasangan, guru dan juga Tuhan, maka pasti orang yang cinta ini akan menunjukkan sikap patuhnya. Bukan patuh yang pura-pura, tapi patuh yang haqiqi sebab cinta di hatinya.

Cinta itu adalah suatu relasi yang agung, baik itu cinta yang ditujukan pada sesama maupun Dzat yang maha tinggi. Maka, ciri-ciri di atas akan muncul pada orang yang mencintai tersebut. Terhadap yang dicintai apakah orang itu akan selalu ingat, kagum, ridha, mau berkorban, ada ketakutan dan sekaligus penuh harap. Serta mau menjadi seorang yang patuh.

Maka, senantiasa perhatikanlah diri kita masing-masing, apakah dalam mencintai Allah kita memiliki semua ciri-ciri ini dan apakah orang yang kita cintai memiliki ciri-ciri ini. 
Wallahu’alam bishowab.


Penulis : Mujahid Berpena
Editor : Princess Meymey

You Might Also Like:

Comment Policy: Silakan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar