Skip to main content

follow us




Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya tentang beragam bentuk puisi serta pengertiannya. Kita bebas menulis atau membuat puisi sesuai jenis yang dikuasai. Bahkan, sejak puisi modern muncul, banyak penulis atau penyair yang membuat puisi tanpa memikirkan peraturan yang membuat mereka pada akhirnya malas untuk membuat puisi. Dan ketika diberi kebebasan, ide-ide yang hampir beku di dalam otak pun langsung mencair dan tumpah ke dalam sebuah puisi.

Puisi yang jarang sekali disadari kehadirannya adalah puisi mbeling. Padahal banyak sekali jika kita telusuri orang-orang yang tanpa sadar membuat puisi tersebut. Mari kita kupas sedikit siapa pelopornya.

Jeihan Sukmantoro, selain dikenal sebagai pelukis papan atas, ia juga salah satu pelopor sekaligus konseptor gerakan puisi mbeling yang cukup populer pada awal tahun 1970-an. Ia lahir di Solo pada tanggal 26 September 1938. Sejumlah puisinya pernah dipublikasikan di majalah aktuil dan pop serta beberapa media lainnya. Selain itu, termuat juga dalam sebuah esai mengintip puisi Indonesia kontemporer karya Sumardi yang termuat dalam antologi Festifal Desember 1975 (Dewan Kesenian Jakarta, 1976), Senandung Bandung (Swawedar 69 Bandung, 1981), Malam Seribu Bulan (Forum sastra Bandung, 1992), dan Orba (Forum Sastra Bandung, 1994).

Puisi mbeling adalah puisi yang membumikan persoalan secara konkret, langsung mengungkapkan gagasan kreatif ke inti makna tanpa pencanggihan bahasa. Adapun sikap mbeling yang esensial adalah menjalani hidup dengan jiwa kanak-kanak, yang makna serta pengertiannya tidak kekanak-kanakan dan juga tidak kebarat-baratan. Tidak sok serius dalam menanggapi keadaan, tetapi dalam mereaksi sebuah persoalan, sarat dengan makna. Ini tidak berarti santai dan tidak berarti tidak peduli pada lingkungan hidup. 

Seperti contoh puisi 'DOA (1970)' di bawah ini yang ditulis di bawah ini :

DOA 

A
A A
A A A
A A A A
A A A A A
A A A A A A
A A A A A A A
A A A A A A A A
A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A A A A A A

Aamiin

Puisi di atas, tampak seperti main-main ditulis oleh Jeihan. Tetapi tidak demikian bila kita melakukan pembacaan secara hermeneutik (tafsir), dengan cara menelisik susunan huruf A dari atas ke bawah sebanyak tujuh belas huruf dalam bentuk piramida. Huruf 'A' yang ada dalam bangunan piramida itu: dalam bayangan pembaca, pasti huruf tersebut adalah awal dari pengucapan kata 'Aamiin' yang huruf A-nya dibaca dengan memanjangkan suara lebih dari tiga harkat. Membaca atau mengucapkan kata Aamiin itu sesuai berdoa pada dasarnya akan memberikan pahala kepada si pengucapnya. Selain itu, kata 'aamiin' juga mengandung makna religius.

Apa yang ditulis Jeihan di atas, dalam teks sastra itu sendiri sebagaimana dikatakan Paul Ricoeur adalah dunia makna yang otonom. Ini artinya, bahwa teks puisi di atas bisa ditafsir dari sisi mana saja, yang dengan demikian dalam pemaknaannya tidak harus sama dengan dunia makna yang dibayangkan oleh si penulis teks sastra tersebut. Dalam proses penafsiran semacam itu, pada sisi yang lain sebagaimana dikatakan Gadamer, akan terjadi interaksi antara penafsir dan teks yang ditafsirnya, di mana penafsir akan mempertimbangkan konteks historis yang terdapat di dalam teks sastra itu sendiri.

Kata 'aamiin' yang dibaca dan disuarakan dengan gaya semacam itu, secara historis antara lain terdapat dalam ibadah salat, sebagai buah tangan isra-mi’raj Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wasallam. Kata aamiin yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kata yang diucap ma’mum seusai imam membaca surah Al-Fatihah dalam ibadah salat wajib yang dilakukan secara berjamaah, atau saat salat sendirian. Salat itu sendiri menurut para ulama adalah doa.

“Tidak tahu, kenapa saya menulis puisi seperti itu. Insting saya-lah yang bekerja. Latar-belakangnya adalah ketika berada dalam puncak kemiskinan. Saya dan keluarga menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kami sering salat bareng. Suara anak-istri yang mengucap kata aamiin seusai saya membaca surah Al-Fatihah terus berdengung di dalam hati,” ujar Jeihan Sukmantoro, yang berkeyakinan penuh bahwa apa yang ditulisnya itu benar-benar dibimbing oleh instingnya, oleh rasa cinta yang mendalam kepada Yang Maha Kuasa.

Kesimpulannya, puisi mbeling ini puisi yang membebaskan pikiran kita berkeliaran untuk mencari ide, kemudian menuliskannya sesuai apa yang terlintas di dalamnya. Tentu ada makna tersirat dalam puisi yang dibuat. Bicara soal tersirat dan tersurat, makna tersirat dalam sebuah teks adalah makna yang tidak disampaikan secara terbuka dari sebuah teks. Sedangkan makna tersurat dalam sebuah teks adalah makna yang mudah dipahami dari sebuah teks, karena makna tersebut terdapat atau dituliskan dalam teks tersebut.

Seperti pada puisi yang ditulis oleh Princess Meymey di bawah ini. Princess Meymey adalah nama pena dari penulis asal Lampung yang memiliki nama asli Irma Dewi Meilinda. Puisi di bawah ini memiliki makna tersirat atau tersurat? Dan termasuk jenis puisi apakah kedua puisi di bawah ini? Coba simak puisinya!

PUISI (1)

Bahagiaku Memilikimu

Bahagiaku mencintaimu
Mencintaimu membuatku bahagia
Aku bahagia karenamu
Semoga kita selalu bahagia

Lampung, 09 April 2019

PUISI (2)

KITA

Aku
Kamu
Kita
Selamanya

Nikah, yuk?!

Lampung, 09 April 2019

You Might Also Like:

Comment Policy: Silakan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar