Hukum Karma Menurut Pandangan Islam - The Puisi

Hukum Karma Menurut Pandangan Islam



Kukira kamu sudah berubah, nyatanya tak pernah berubah. Perih hati  ini terus saja kaulukai. Bisakah berhenti menyakiti? Aku hanya manusia biasa yang kadang lelah ketika kebohongan terus saja kaulakukan. Sabarku dibalas dengan luka yang tak henti.

Salahku apa, sampai tega kaulukai hati yang selalu menjaga perasaanmu. Dulu, kau datang membawa bahagia tapi kini tanpa mengabari dan kulihat kau bersama orang lain. Hancur hati ini. Berkali-kali kutanya bagaimana kelanjutan hubungan kita, kau selalu saja mengatakan bahwa hanya akulah orang yang kaucintai. Jika benar, sudahi sandiwara yang kaulakukan bersama orang lain.

Wanita manapun tak mampu menyembunyikan rasa cemburunya, karena sesabar apa pun mereka, tetap saja memiliki rasa cemburu. Jangan pernah mencoba untuk melukai hati perempuan, sebab luka yang telah menusuk di hati, tak dapat dilupakan meski sudah bertahun-tahun lamanya. Maaf bisa saja diberikan, tapi melupakan apa yang melukai, itu tidak bisa.

Jika cinta sudah ternodai oleh sebuah kebohongan, maka hubungan akan menjadi tidak sehat. Pertengkaran akan lebih sering terjadi, apalagi kebohongan itu dilakukan berulangkali. Tak mudah meluluhkan hati seseorang, tapi dengan menyakiti hati setelah mendapatkannya adalah kebodohan yang hakiki. Kita memang harus percaya bahwa takdir Allah itu takkan pernah salah. Luka diberikan untuk mendapatkan bahagia yang tak ternilai. Akan tetapi, jangan pernah gunakan kata 'takdir dan harus sabar' ketika sedang melukai hati seseorang! Cinta tak melulu harus melalui fase brokenheart!

Guys! Di sini penulis ingin mencoba memberikan sedikit wejangan untuk semuanya, baik laki-laki maupun perempuan. Jangan pernah mencoba mengatakan cinta apalagi berkata kalau kamu serius ingin menjalin hubungan pada seseorang, jika pada akhirnya kamu akan memberikan luka pada hatinya. Batin seseorang itu ada yang kuat dan lemah. Terutama perempuan, hatinya sangat lembut, hanya ingin dicintai tanpa harus menerima air mata luka.

Dan di sini, penulis tidak ingin berkata tentang hukum KARMA, tapi ini tentang hukum timbal-balik atau sebab-akibar. Seperti yang telah dijabarkan Raehanul Bahraen di situs muslim.or.id, hukum karma berdasarkan beberapa sumber:
  1. Merupakan hukum sebab-akibat, ada aksi dan ada reaksi. Jika berbuat baik, maka akan mendapat balasan baik, jika berbuat buruk maka akan mendapatkan balasan buruk juga.
  2. Menebak hal gaib, semisal menebak bahwa engkau mendapatkan hal buruk ini karena perbuatan burukmu yang itu (disebutkan perbuatannya).
  3. Adanya keyakinanan rienkarnasi kembali ke dunia setelah kematian, sebagai akibat perbuatannya yang lalu pada kehidupan sebelumnya [1]

Bahkan ada pendapat seperti ini mengenai hukum karma:
“Dhamma Niyama / Hukum Karma tidak membutuhkan kepercayaan Anda. Siapapun Buddha, Nabi, setan, manusia, binatang, tumbuhan dan semua keberadaan di seluruh semesta ini termasuk TUHAN tunduk pada HUKUM DHAMMA NIYAMA.”[2]

Terlepas dari apakah benar pengertian hukum karma dari berbebagai sumber, yang pasti dalam agama Islam tidak membenarkan ajaran karma dengan pengertian di atas.

Dalam Al-Muasu’ah Al-Muyassarah dijelaskan,

الكارما – عند الهندوس – : قانون الجزاء ، أي أن نظام الكون إلهي قائم على العدل المحض، هذا العدل الذي سيقع لا محالة إما في الحياة الحاضرة أو في الحياة القادمة ، وجزاء حياةٍ يكون في حياة أخرى ، والأرض هي دار الابتلاء كما أنها دار الجزاء والثواب

“Karma menurut ajaran hindus adalah hukum  balasan. Yang artinya aturan illahi yang berdasarkan keadilan murni. Keadilan ini terjadi bisa jadi pada kehidupan saat ini atau di kehidupan yang akan datang. Balasan keihdupan ini akan terjadi pada kehidupan selanjutnya. Bumi adalah tempat ujian sebagaimana juga sebagai tempat balasan kebaikan dan keburukan.” [3]

Menurut pandangan Islam mengenai ajaran karma, yaitu:
Pertama: Tidak dibenarkan jika memastikan hukum sebab akibat dengan sebab yang pasti atau tertentu. Misalnya, engkau sakit parah sekarang ini karena dahulu engkau sering mencuri, sekarang engkau kena hukum karma.

Hal ini termasuk menebak hal-hal gaib, karena:
“Darimana ia tahu bahwa penyebab sakit parah adalah karena dosa mencuri? Bukankah ada dosa-dosa lainnya yang tersembunyi bahkan lebih besar.”

Bisa jadi sakit parah tersebut karena ujian dari Allah atau dosa lainnya yang pernah diperbuat tanpa diketahui orang lain sama sekali. Bisa jadi sakit parah karena dosanya berupa keyakinan dan akidah dalam hati yang salah mengenai agama dan ajaran Islam.

Menebak hal gaib termasuk dosa kesyirikan yang besar.

Allah berfirman,

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

Bahkan apabila kita percaya dengan tebakan hal gaib maka ini termasuk kekufuran.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.”[4]

Tidak boleh juga menebak hal gaib meskipun hanya bercanda dan bermain-main. Bermain-main menebak karma juga tidak boleh, karena mendatangi tukang ramal saja ada ancamannya, baik kita membenarkan atau tidak membenarkan.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan bertanya padanya tentang sesuatu, maka salatnya selama 40 hari tidak diterima.”[5]

Kedua: Tidak dibenarkan ajaran reinkarnasi.

Dalam ajaran Islam, tidak ada ajaran reinkarnasi. Manusia apabila telah meninggal, maka ia tidak akan kembali ke kehidupan dunia lagi. Tetapi akan mempertanggungjawabkannya di akhirat dan kemudian hidup selamanya di kehidupan akhirat.

Begitu banyak nash yang menjelaskan hal ini. Allah berfirman,

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah:38)

Allah juga berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (Al-A’la: 16-17)

Semoga artikel ini bermanfaat untuk menambah wawasan kita. Untuk lebih lanjutnya, teman-teman semua bisa bertanya pada ahlinya. Karena pada dasarnya, penulis hanyalah menuliskan apa yang sudah atau pernah dibaca dan didengar. Terima kasih telah berkunjung di situs thepuisi. Jangan lupa baca artikel yang lainnya.

Catatan kaki:
[1] kami kumpulkan dari beberapa sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Karma ;
https://id.wikipedia.org/wiki/Karma_dalam_agama_Buddha ; http://www.pengertianartidefinisi.com/pengertian-hukum-karma/
[2] https://www.kompasiana.com/sudhana/hukum-karma-adalah-hukum-perbuatan_552c47b36ea83432438b4571
[3] Al-Muasu’ah Al-Muyassarah Fil Adyan wa Mazahib wal Ahzab hal 728
[4] HR. Ahmad no. 9532, hasan
[5] HR. Muslim no. 2230

0 Komentar untuk "Hukum Karma Menurut Pandangan Islam"

Post a Comment

ADS atas Artikel

ADS Tengah Artikel 1

ADS Tengah Artikel 2

ADS Bawah Artikel