Membuat Cerpen Tak Serumit Membuat Novel - The Puisi

Membuat Cerpen Tak Serumit Membuat Novel

Foto Pribadi


Beberapa orang susah untuk menuangkan ide dalam membuat cerpen, padahal dalam membuat cerpen tak serumit membuat novel. Cerpen permasalahannya hanya pada satu pokok, sedangkan novel berbagai macam permasalahan bisa dituangkan di dalamnya. Berikut ini adalah contoh cerpen untuk pemula yang ingin belajar. Tidak perlu membuat diksi yang terlalu rumit, tulis saja dulu, revisi bisa belakangan. Yang terpenting, penulis bisa menuangkan ide yang mengendap di kepala, selebihnya bisa kita kembangkan tulisan ke arah yang lebih tinggi. Selamat membaca dan belajar untuk teman-teman penulis. Selamat berkarya.


Bidadari Untuk Farhan
oleh Princess Meymey


Di sebuah desa yang sudah berkembang terdapat seorang gadis yang bernama Nurfadillah Khoirunnisa Az-Zahra. Ia biasa dipanggil Nisa. Nisa adalah sosok wanita yang sangat dikagumi dan disenangi oleh semua orang. Selain tutur katanya lembut, ia juga menjadi ustazah di pondok pesantren yang ada di desanya. Tugasnya memberikan ilmu-ilmu tentang agama, serta mengajarkan para santri membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Tidak ada seorang pun yang tidak menyukai gadis yang pintar mengaji, rajin salat serta sering aktif dalam acara islami.

“Assalamualaikum, Ustazah Nisa,” sapa anak-anak santri serempak ketika Nisa hendak masuk ke dalam ruangan.

“Wa’alaikum salam semuanya, bagaimana kabarnya hari ini?” tanya Nisa dengan penuh kasih sayang.

Alhamdulillah ... wasyukurillah ... luar biasa, Ustadzah Nisa,” jawab semua santri dengan serempak.

Alhamdulillah, ya ...,” jawab Nisa tersenyum senang melihat semangat anak-anak didiknya.

“Baiklah, materi hari ini kita mulai sekarang. Hari ini jadwal kita belajar mengenai hukum tajwid. Ada yang sudah tahu kan, apa itu tajwid?” tanya Nisa sambil tersenyum.

Ia mulai menyampaikan materi, ruangan yang berisik sejenak menjadi hening saat ustazah Nisa menerangkan materi. Dengan lembut dan rasa pedulinya untuk berbagi ilmu pengetahuan agama, membuat semua orang segan kepadanya.

Para santri, mulai bertanya tentang materi yang diberikan oleh ustazah Nisa. Ia menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya. Kata dan kalimat-kalimat yang dilontarkan dari mulut perempuan bermata cokelat ini dalam menyampaikan materi, dapat diterap dengan baik oleh murid-muridnya.

Tak terasa, materi hari ini telah usai. Ia menutup pertemuan pada hari itu dengan mengucapkan salam. Semua santri menjawab salamnya, serta meninggalkan ruangan karena jam makan siang sudah tiba.

Assalamualaikum, Ustazah Nisa,” sapa pemuda tampan berpakaian rapi dengan baju koko warna putih, bermotif bunga.

Waalaikumsalam, Ustad Farhan,” jawab Nisa menundukkan kepadanya.

Nisa tidak pernah menatap wajah pria yang bukan mahrimnya. Oleh sebab itu, setiap ada kaum Adam yang menyapa, ia selalu memalingkan wajah dengan menundukkan kepalanya.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Farhan sambil menatap bidadari yang ada dihadapannya.

Alhamdulillah baik, Ustad. Kabar Ustad Fahri sendiri bagaimana? Sudah sehat belum, kemarin aku mendengar kabar kalau Ustad Fahri sedang dirawat di rumah sakit karena kelelahan mengajar.”

“Alhamdulillah sudah membaik kok, Ukhti. Terima kasih atas perhatiannya.”

Setelah mengobrol dan saling menanyakan kabar, ia berpamitan untuk makan siang.

“Maaf, Akhi. Tidak baik kita berdua-duaan dengan yang bukan muhrim. Ana pamit makan siang, ya! Assalamualaikum,” ucap Nisa meninggalkan Fahri di taman pesantren dekat kelas ia mengajar.

Fahri membalas salam Nisa. Ia juga meninggalkan tempat tersebut dan menuju kamar tempat tidurnya untuk beristirahat sejenak. Di dalam kamarnya, ia terbayang akan sosok wanita yang tadi ditegur. Terbayang akan tutur katanya yang lembut, suaranya yang merdu ketika sedang membaca ayat suci Al-Qur’an. Ia bertanya-tanya dalam hati.

“Ya Allah, Engkau kirimkan bidadari di dunia ini secantik ustazah Nurfadillah Khoirunnisa Az-Zahra. Wanita salihah yang anggun, memiliki suara yang merdu, menyayangi anak-anak, mempunyai tutur kata yang lembut, serta memiliki akhlak yang baik. Siapakah kaum Adam yang beruntung untuk menjadi suaminya? Jika diberi kesempatan, inginku memilikinya seutuhnya. Betapa bahagianya diriku memiliki seorang wanitanya. Izinkan aku memilikinya seutuhnya, agar kelak dia dapat membimbing anak-anakku menjadi anak-anak yang salih dan salihah. Menjadikanku suami yang paling beruntung bisa memiliki isteri salihah sepertinya.”

“Aaahh! Aku kok jadi berhayal seperti ini, ya!”

***

Jarum jam sudah menunjukkan waktu salat Asar tiba, semua yang tinggal di pesantren segera mengambil air wudu dan mengisi tiap-tiap sap di musala pesantren untuk mengikuti salat berjamaah. Fahri bergegas menuju musala Pesantren yang tak jauh dari kamarnya. Ketika keluar dari kamar, dari kejauhan ia melihat bidadari yang didambakan. Siapa lagi kalau bukan Nurfadillah Khoirunnisa Az-Zahra. Ustazah Nisa sedang berjalan bersama dengan teman-temannya menuju musala, tak sadar kalau ada yang diam-diam memerhatikannya. Selain Fahri, ada pria lain yang sedari tadi bersembunyi di semak-semak sedang memandang wajah cantik nan anggun itu.

“Aduuhhh ...!” Terdengar suara orang yang merintih kesakitan.

Nisa dan teman-temannya sontak kaget mendengar suara tersebut yang tak jauh dari mereka berjalan.

“Siapa itu?” tanya Nisa penasaran.

Farhan muncul dari semak-semak, Farhan adalah saudara kembar Fahri yang suka dengan aliran musik rock dan tak suka berkumpul bersama anak-anak santri.

“Gua yang mengaduh tadi. Kaki gua digigit semut,” jawab Farhan.

“Sedang apa kamu di sini? Bukannya cepat ambil wudu malah bersembunyi disemak-semak,” tanya teman Nisa dengan ketus.

“Sudah! Sudah! Masalah seperti ini tak usah diperpanjang,” ucap Nisa.

“Afwan Ukhti, jika aku ikut campur dalam masalah ini. Aku minta maaf atas perbuatan adikku barusan. Dia baru pulang dari Jerman, jadi tingkah lakunya saat ia tinggal di Jerman masih terbawa-bawa di Pesantren ini.

“Ngapain kakak minta maaf? Wajar kan kalau aku terpesona dengan wajah cantik neng gelis ini. Bidadari yang turun dari langit, yang tercipta untukku,” ucap Farhan dengan nada sedikit meninggi.

“Farhan, dalam Islam kita tidak boleh saling pandang antara ikhwan dan akhwat yang bukan muhrimnya. Abi juga sudah memberitahumu akan hal ini, kan? Ini namanya zina mata,” jelas Fahri sedikit kesal serta malu akan perbuatan adiknya tersebut.

“Sudah, jangan bertengkar. Aku sudah memaafkannya. Sekarang, kita segera mengambil wudu karena salat Asar akan segera dimulai.” Nisa menengahi pertengkaran tersebut.

Mereka langsung bergegas menuju musala, tak terkecuali Farhan. Farhan juga ikut salat berjamaah bersama yang pada saat itu diimami oleh ayahnya sendiri, yang sering di sapa Kiyai Abdullah. Usai salat berjamaah, Kiyai Abdullah segera membuka khutbah. Semua orang yang ikut salat berjamaah, semuanya mendengarkan khutbah tersebut, kecuali Farhan. Usai salat, ia langsung ke taman dan mengambil selembar kertas dan pulpen. Ia mulai menuliskan surat cinta untuk Nisa.

Assalamualaikum, Nisa.
Maaf jika merasa risih dengan surat yang kukirim ini. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja melalui surat yang sengaja dibuat untukmu.
Sejak awal aku melihatmu, kumerasakan kedamaian dalam hidup ini. Kupandangi dirimu dari jarak kejauhan. Wajahmu begitu elok nan rupawan, suaramu yang merdu ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Inginku memilikimu seutuhnya, mencintai dengan setulus hati. Dari sekian banyak wanita yang kutemui di dunia ini, hanya satu wanita yang dapat membuat jantungku seperti berhenti sejenak.
Surat ini sengaja ditulis untukmu, bidadariku. Maukah kamu menikah denganku? Mungkin aku tak pantas untukmu, karena aku tak seperti Kak Fahri yang taat agama. Aku hanya laki-laki jalang yang tak punya iman dan jauh dari perintah-Nya. Jika Tuhan mengizinkanku untuk dapat memilikimu, izinkanku menikahimu dengan lafadz basmallah. Serta bantu aku untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mungkin hanya ini saja yang dapat aku sampaikan.

Salam Sayang dariku,
Muhammad Farhan Fernando

Usai menuliskan surat cinta yang sengaja dibuat untuk Nisa, Farhan segera menaruh suratnya ke dalam amplop berwarna merah muda. Segera dikirimkan surat itu bersamaan dengan bunga mawar merah yang dipetik di taman. Ia bergegas untuk memberikannya kepada Nisa, agar Nisa mengetahui isi hatinya.

Malam harinya, Farhan tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan surat untuk pujaan hatinya. Hati berdegup sangat kencang, pikiran pun tak tenang. Hingga akhirnya, ia terlelap dalam tidurnya.

***

Keesokan harinya, burung berkicau begitu merdu—suara ayam-ayam berkokok saling bersahutan. Matahari mulai memancarkan sinarnya—menandakan hari sudah pagi. Farhan bergegas untuk mandi. Tak sabar ingin mendengar jawaban dari Nisa—wanita yang ingin ia nikahi.

Di taman, Farhan berjalan-jalan memandangi bunga-bunga di sekitar taman. Sorot matanya berhenti—ia melihat ada gadis impiannya yang sedang menyirami bunga. Senyuman manisnya membuat hati Farhan merasa damai.

Tiba-tiba gadis itu menghampirinya, aroma parfumnya semerbak.

Assalamualaikum, Farhan.”

Waalaikumsalam!” Jantung Farhan berdegup sangat kencang, ia terdiam sejenak dan menghayal kalau dirinya, juga Nisa sedang duduk dipelaminan. Sungguh bahagianya mendapatkan wanita pujaan hati yang selama ini ia tak pernah menemukan wanita yang cantik, baik dan shaleha seperti Nisa. “A-ada apa Nisa?” tanya Farhan dengan terbata-bata.

“Kenapa cara bicaramu jadi tebata-bata begitu? Bibirmu seakan bergetar ketika berbicara padaku,” goda Nisa.

Tak disangka, gadis yang dikira pemalu, dapat juga menggoda seorang laki-laki.

“Emm, aku pegi ke musala dulu, ya!” Farhan mengalihkan pembicaran. Tapi Nisa menghentikan langkahnya.

“Tunggu, Farhan. Aku sudah membaca suratmu. Aku tahu bagaimana masalalumu yang kelam. Tapi aku yakin, perubahan akan membawamu kepada kebaikan dan itu sudah kamu tunjukkan kepada semua orang. Maka dari itu, dengan mengucap basmallah. Kuterima pinanganmu. Oh, iya, yang perlu kamu ingat—yang menentukan hidupmu adalah kamu sendiri. Buatlah menjadi lebih baik.”

[Selesai]

Lampung, 15 Agustus 2016

0 Komentar untuk "Membuat Cerpen Tak Serumit Membuat Novel"

Post a Comment

ADS atas Artikel

ADS Tengah Artikel 1

ADS Tengah Artikel 2

ADS Bawah Artikel